Langsung ke konten utama

Postingan

Pendekatan

Hal mendekati dan didekati itu lebih rumit bahkan lebih menyakitkan daripada meninggalkan dan ditinggalkan. Mereka adalah dua orang yang tidak begitu kenal dengan salah satu orangnya merasa ingin mengenal lebih dekat. Seiring berjalannya waktu tidak ada yang sepakat bahwa mereka akan menjadi siapa, menjadi si pendekat atau menjadi yg didekati. Semuanya terasa lengkap karena komunikasi, semuanya terasa nyaman karena perhatian, semuanya terasa nyata karena kata-kata indah. Tidak ada yang mengaku atau menyangkal tentang apa yang terjadi, tentang perasaan yang muncul atau mungkin perasaan yang berlalu pergi. perasaan siapa yang muncul? Lalu perasaan siapa yang pergi? Lagi-lagi tidak ada yang mengaku. Pendekatan bukan hal yang mudah buat pemula dan tidak juga gampang buat dia yang sudah berulang mengalami. Karena perasaan yang muncul sesudahnya bukanlah mainan yang kemudian bosan lalu beralih ke yang lain. Karena perasaan yang berlalu pergi tidak dapat disalahkan dalam hal mencoba. Si
Postingan terbaru

Kenyataan kita

Kepadanya yang dulu pernah kutinggalkan. Kamu lelaki yang kusayang malah kucinta dengan teramat. Kamu yang tak pernah aku lupakan malah selalu kurindukan. Kamu yang selalu kubanggakan tapi malah kutinggalkan. Pasti banyak yang bertanya atau malah banyak yang ingin memakiku kala itu. Dia wanita jahat, dia menipu lelakinya, dia pasti berselingkuh dengan lelaki lain. Ah banyak lagi yang mereka katakan tapi sungguh aku tidak peduli. Sampai saat kemarin aku tidak sengaja bertemu denganmu, itu mungkin pertama kalinya kita saling bertemu setelah setahun yang lalu. Kamu tersenyum, aku tersenyum tapi dia merasa canggung karena hal itu. Dia wanita yang kurasa beruntung bisa mendekap erat lenganmu seperti itu, dia cantik dan kurasa dia pun selaras denganmu. Sejenak aku teringat, mungkinkah saat itu aku selaras denganmu? Mungkinkah saat itu ada wanita yang berpikir seperti ku sekarang bahwa aku beruntung bisa denganmu? Aku tersenyum. Seorang teman berbisik “dia membawa pacarnya”, aku

Mereka yang tak berucap

Dia terus berangan tentang ‘orang itu’. Dia berhayal seandainya kami dapat bertemu kembali, mungkin sebaiknya saat itu lebih lama. Bukan maksud merendahkan dirinya sendiri tapi dia ingin melihat ‘orang itu’ lebih lama. Semua kenangan penuh dengannya seperti kaset rusak yang hanya mengulang hal itu-itu saja. Sebenarnya apa yang terjadi dengan dia dan ‘orang itu’, tidak ada. Sebenarnya apa yang telah dia dan orang itu ungkapkan, tidak ada. Karena tidak ada maka menimbulkan sesak didada.  Berdebat dengan diri sendiri itu menyusahkan, dia tidak bisa menang atas pikirannya sendiri dan tidak bisa kalah atas pilihan hatinya. Dia melihat dari tempat yang aman saat bersamanya, dia tidak ingin menonjol apalagi sampai mengusik ‘orang itu’. Tapi yang terjadi bukan hanya dia yang memperhatikan sesekali diapun diperhatikan. menganggap itu hanya kebetulan tapi terjadi berulang, menganggap itu hanya hayalan tapi terjadi secara nyata. Orang itu bukan hanya sekali melihatnya, bukan hanya se

Alasan

Setiap orang tahu ada hal yang tidak bisa kamu genggam meski tanganmu menjanjikan kenyamanan, menjanjikan kelembutan yang kamu punya, menjanjikan hangatnya perasaan yang kamu serahkan.Tapi setiap orangpun tahu jika kamu akan berusaha meski tanganmu akan terluka, tanganmu akan patah dan tanganmu akan digantikan. Sebenarnya apa yang kamu lakukan dengan rasa sakit yang datang kemudian? mencoba karena hasil akhir masih bisa diubah? mencoba karena alasan perasaan harus diperjuangkan? Sedikit yang kamu yakini dengan banyak keraguan yang sebenarnya merongrongmu, lalu kamu mengamini keyakinanmu berharap bersenang-senang kemudian adalah upah. Kamu adalah dia yang percaya bahwa akhirnya si pungguk akan sampai dibulan dan siburuk rupa akan berubah menjadi pangeran suatu hari nanti. Optimis bukan sebutan yang pas buatmu, kenapa? karena kamu sudah sampai pada akhir. Kita menyebutnya 'alasan', sebab yang tidak akan merubah apapun. Alasan yang tidak akan mengembalikannya padamu, berbalikl

There's nothing to forgive

“masuk dong Rei, anak-anak pada nanyain elo tuh” “bentar, 5 menit lagi gue masuk kok” “lagian ngapain sih loe dari tadi ngeliatin langit mulu? emang ada yang mau turun? Atau mungkin bakal ada bintang jatuh malam ini?” “hmm...” “just 5 minute, ok?” “hmm..” Ntah apa yang dipikirkan wanita itu, mungkin dia mengalami saat yang sulit saat ini. Dia menengadahkan wajahnya kelangit, mengembuskan nafasnya perlahan seakan paru-parunya akan meledak sebentar lagi karena terlalu banyak udara yang dihirupnya. Tangannya dibiarkan lemas disisinya, membiarkan rambutnya berantakan karena angin yang semakin kencang menghantam tubuhnya. Tapi anehnya dia tidak pernah mengerjapkan mata, dia terus membukanya meski angin mengiris sakit kedalam. Menganggapnya tak apa asal angin membawa bebannya sekarang tanpa meninggalkan bekas untuknya. Menghempaskan kenangan itu pergi jauh agar dia bisa kembali menatap kenyataan tanpa takut airmatanya menetes tanpa izin seperti sekarang. I'm jealous

Hubungan

Siapa yang tau soal ‘siapa lebih cinta? siapa lebih rindu? siapa lebih butuh? Atau siapa lebih sakit?’. Mungkin dia pun tidak tau, ya dia tidak tau kalau dialah yang ‘lebih’. Dia yang lebih cinta, lebih rindu, lebih butuh dan lebih sakit. Siapa yang tau soal ‘sampai kapan mencoba? sampai kapan bertahan? sampai kapan berdiam? Atau sampai kapan bisa berdusta?’. Mungkin dia tau, ya karena dia telah berhenti mencoba, berhenti bertahan, berhenti terdiam dan berhenti berdusta. Dia berkata “berjuanglah”, tapi dia tidak ikut berjuang denganmu. Ah dia memang begitu pikirmu, mengganggapnya biasa karena kamu mencintainya. Dia berkata ‘tunggulah’, tapi dia begitu lama menghampirimu. Ah dia memang begitu pikirmu, mengganggapnya biasa karena kamu menghargainya. Memberinya waktu agar dia merasa ‘kamu berarti’, memberinya jarak agar dia merasa ‘rindu’, memberinya kesempatan agar sadar ‘dia mencintaimu’. Dan memberimu fakta ‘dia tidak mencintaimu’ Mencoba semua yang dia bisa, mengkomprom

kamu?

Tentang seseorang yang kamu sembunyikan didalam sana, ditempat yang mungkin tidak akan kamu bagi dengan siapapun. Tentang sesuatu yang sebenarnya bukan hal memalukan ataupun dosa, tapi tidak bisa kamu tunjukkan untuk menjaga yang lain ataupun mungkin menjaga dirimu sendiri. Kamu rasakan, kamu diamkan, kamu tutupi lalu kamu tangisi. Tidak ada yang bisa paham, ya bagaimana bisa paham jika kamu saja sangat pandai bersandiwara. Kamu tersenyum dengan cara yang berbeda karena mata dan bibirmu tidak mengeluarkan senyum yang sama. Tanpa sadar semua hal harus menjadi sama, semua yang dirasa harus bahagia. Kamu tidak boleh mengeluh apalagi menangis, itu tidak boleh buat seseorang yang hanya dianggap teman oleh seseorang yang dirasa lebih dari teman. Cukup? Aku rasa kamu sekarang tau tentang kamu yang aku gambarkan tadi. Kamu naif? Tentu bukan, kamu menyedihkan? Tentu tidak, kamu kelelahan? Sangat lelah. Pertama, kamu adalah orang baik. Tidak menjadi tamak dengan menjaga harga diri d